Menjelajah Lima Tempat Bersejarah di Ujung Utara Jakarta   Nuring Hatie         07 Januari 2019         08:15:58         2129x

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekitar pukul 09.00 WIB, sejumlah orang berbaju merah berkumpul di ujung Pasar Ular, tepatnya di pertigaan Jalan Plumpang Semper, Jakarta Utara. Salah seorang perempuan dari rombongan tersebut menjelaskan kenapa tempat mereka berkumpul itu disebut Pasar Ular.

"Ada yang bilang tempat awal bentuknya rawa-rawa dan banyak ular. Ada juga yang bilang dinamai begitu karena istilah barang-barang yang dijual dulu barang selundupan, jadi harus licin kayak ular," ujar Ira.

Ira Lathief merupakan pelaksana tur Wisata Kreatif Jakarta yang kali ini menjelajah wilayah di ujung utara kota DKI Jakarta, Tanjung Priok. Wisata kali ini bertemakan "Food Tour Free York - Tg Priok".

Wisata ini adalah tur berjalan kaki kombinasi naik angkot dengan jarak sekitar tiga Km dan banyak berhenti di tempat bersejarah dan kuliner. Dimulai dari Pasar Ular Plumpang, wisata kemudian dilanjutkan ke Pasar Ular Permai. Selanjutnya menuju salah satu stasiun Kereta Api peninggalan kolonial Stasiun Tanjung Priok, lalu menjelajah Kampung Warteg Enim.

Kegiatan Wisata Kreatif Jakarta kemudian berlanjut ke masjid dan gereja bersebelahan yang berbagi tembok, yaitu Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Mahanaim. Peserta kemudian beranjak ke Museum Maritim, dan ditutup dengan Makam Mbah Priok.

Pasar Ular

Rombongan yang telah sepakat berbaju merah diajak memasuki lorong Pasar Ular Plumpang yang sempit dan berkelok, mirip ular. Meski begitu, lingkungan terbilang bersih sehingga cukup nyaman untuk berjalan-jalan.

Barang-barang yang ditawarkan kebanyakan pakaian, di antaranya celana jeans, dan ada beberapa toko yang menawarkan sepatu. "Awal mulanya Paul (sebutan untuk Pasar Ular) adalah pasar kaget, barang black market dijual harga lebih murah, barang seperti sepatu bermerek yang dulu di mal nggak ada," ujar Ira.

Namun, seiring berjalannya waktu karena telah banyak orang tahu, tak ada lagi barang selundupan yang dijual, hanya saja barang ditawarkan dengan harga miring. "Karena langsung turun dari kapal, bukan di mal," kata Ira.

Sejumlah pedagang yang ditemui mengaku telah berjualan di pasar tersebut selama 10, 15, bahkan ada yang 20 tahun. Kebetulan, Pasar Ular yang menjadi titik temu itu adalah Pasar Ular yang baru. Pasar Ular lama atau Pasar Ular Permai menjual keramik dan kristal.

Dengan Metromini, rombongan menuju Pasar Ular Permai, dan benar saja toko yang berjualan sebagian besar menawarkan keramik dan kristal. "Saya generasi kedua. Dulu orang tua belanja kramik langsung dari pelabuhan," ujar Hendra pemilik toko keramik Hendra yang berada tepat di tepi Jalan Yos Sudarso.

Dia mengungkapkan keramik biasanya datang dari Cina. Kristal diimpor dari Eropa. Pembeli yang datang kebanyakan dari Palu dan Manado untuk dijual kembali nantinya.

Tidak hanya keramik lama, keramik baru juga ditawarkan di sana. Satu paket poci berserta enam cangkir, misalnya, dihargai Rp 180 ribu.

Stasiun Tanjung Priok

Dari Pasar Ular Permai, membayar ongkos Rp 3.000 untuk angkutan kota, rombongan kemudian tiba di Stasiun Tanjung Priok. "Ini peninggalan jaman Belanda dari abad 18. Setelah 1980-an nggak dipakai, kemudian dipakai kembali pada 2000-an, diresmikan pada 2010," ujar Ira.

Benar saja, saat memasuki stasiun, seakan dibawa ke masa lalu dengan atap melengkung dan tinggi, terkesan megah. Wajar rasanya jika Ira juga menyebutkan stasiun ini sering kali dijadikan tempat pengambilan video musik atau iklan.

Ira kemudian bercerita pada saat peresmiannya menjadi stasiun penumpang, ditemukan bunker yang kabarnya terhubung ke pelabuhan. "Disinyalir untuk mengambil barang-barang biar nggak diketahui pribumi," kata Ira.

Tak hanya menuju pelabuhan, cerita yang beredar di masyarakat bunker tersebut juga menuju Stasiun Kota Tua dan bahkan pulau Onrust di Kepulauan Seribu.

Kampung Warteg Enim

Waktu makan siang tiba, deretan warung di kawasan Jalan Ende menjadi tempat untuk mengisi perut. Letaknya tak jauh dari Stasiun Kota, sekitar 10 menit jika ditempuh dengan jalan kaki.

Kawasan ini bisa disebut kampung warteg, deretan warung berjajar menawarkan beraneka macam menu. Sup iga sapi di Warteg Nabila menjadi pilihan untuk mengisi perut yang keroncongan.

Dari penuturan pemilik warteg, warung di kawasan ini buka 24 jam selama tujuh hari, layaknya warung makanan cepat saji. "Liburnya cuma waktu Lebaran," kata dia.

Satu mangkuk sup iga sapi datang lengkap dengan nasi putih bertabur bawang merah di piring lain. Kuah bening sop menggoda untuk diseruput. Rasanya simpel, sederhana, namun nikmat.

Kuah beradu daun bawang, serta sayur kol dengan tekstur yang masih renyah menjadi perpaduan yang apik, selain 'sang pemeran utama' tiga potong iga berukuran lumayan besar. Harganya bisa dikatakan cukup murah untuk satu porsi, yakni Rp 23 ribu.

Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Mahanaim

Wisata dilanjutkan ke Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Mahanaim, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Berada bersebelahan, bahkan berbagi tembok yang sama. Masjid dan gereja ini merupakan saksi bisu kerukunan umat beragama di Indonesia.

"Tahun baru kemarin seru. Natal dan tahun baru parkir di sini (Masjid). Nggak ada masalah kita. Kita saling menjaga. Saat Lebaran di Gereja biasanya tidak ada yang beribadah. Kalaupun bertepatan, biasanya mereka beribadah selesai shalat Id," ujar penjaga masjid, Endang Gunaharja (51 tahun).

Menurut Endang, Masjid Al Muqarrabien dibangun setahun setelah gereja Mahanaim didirikan pada 1958. Masjid didirikan atas permintaan para pelaut dan karyawan perhubungan laut pada saat itu.

Masjid kemudian direnovasi pada 1975. Nama masjid Al Muqarrabien diberikan oleh ulama dan sastrawan Indonesia Hamka. Sebelumnya masjid tersebut bernama Jawatan Pelayaran.

Museum Maritim

Menyeberang Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Mahanaim, rombongan memasuki kawasan pelabuhan Tanjung Priok. Berjalan sekitar 10 menit, akhirnya tiba di Museum Maritim Indonesia yang berlokasi di Jalan Raya Pelabuhan Nomor 9 Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Museum ini diresmikan pada 7 Desember 2018. Dulunya, ini adalah bekas kantor Pelindo," ujar Kepala Bagian Pelayanan dan Edukasi Museum Maritim, Andi Handriana.

Selama kurang lebih satu bulan pertama dibuka, Andi mengatakan, museum ini telah dikunjungi lebih dari 1.000 orang. Museum ini menceritakan kilas sejarah pelabuhan di Hindia Belanda mulai pada saat kolonial Belanda, termasuk sejarah pelabuhan Tanjung Priok, hingga masa setelah kemerdekaan, dengan replika barang, dorama, hingga audio visual yang menarik.

Museum juga dilengkapi QR code di sejumlah tempat untuk menjelaskan peristiwa yang digambarkan kepada pengunjung lewat ponsel pintar mereka. Tidak hanya itu, terdapat pula ruang simulasi kapal sehingga pengunjung dapat merasakan suasana di dalam kapal.

Masuk museum ini tidak dipungut biaya alias gratis. Museum buka dari Selasa hingga Jumat pukul 09.00 sampai 16.00 WIB. Pada akhir pekan Sabtu dan Ahad, museum buka pukul 09.00 sampai 17.00 WIB.

sumber : https://gayahidup.republika.co.id



CHANNEL KABUPATEN ACEH UTARA
POLLING
Bagaiman Pelayan Medis pada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara
  Sangat Memuaskan
  Memuaskan
  Kurang Memuaskan

STATISTIK PENGUNJUNG
Pengunjung Online : 5

Pengunjung Hari Ini : 181

Pengunjung Bulan Ini : 6559

Total Pengunjung : 711501
ALAMAT

Copyright @ 2016 Pemerintah Aceh Utara Developed By Pemerintah Aceh Utara. All right reserved.