POTENSI
Perkebunan
Peternakan
Perikanan
Perindustrian
Koperasi
Sumber Daya Air
Pertambangan
SEKILAS ACEH UTARA
Visi & Misi
Sejarah
Sekilas
Bupati & Wakil
Pariwisata
Geografi
Download
Alamat
Partai Politik
Nama Pejabat
Instansi aceh utara
PENDIDIKAN
Program Pendidikan
Program 2009
Prioritas Kegiatan 2009
Kurikulum Pendidikan
FASILITAS UMUM
Kesehatan
Hotel
Perbankan
Sarana Ibadah
Transportasi
PERUSAHAAN KOMODITI
Kopi
Pinang
Kelapa (kopra)
Kunyit
Jahe
Kemiri
Coklat
Sawit
Karet
Souvenir Shops
RENCANA STRATEGIS
Agenda Pembangunan
Prioritas Pembangunan
Strategi Pembangunan
Program Transisi
PEGAWAI NEGERI SIPIL
Sekretariat/ Badan/ Dinas/ Kantor
Guru
Kecamatan
Puskesmas
UPTD Pendidikan
Rubrik
Kabupaten Aceh Utara
Komputer dan Internet
Berita Nasional
Berita Televisi
Nanggroe Aceh Darussalam
Serba Serbi Aceh Utara
Sain dan Teknologi
Lowongan Kerja

   


Pariwisata : Nuansa Budaya Aceh Utara

Kerajaan Samudera Pasai muncul pada abad ke 13 Masehi ketika Kerajaan Sriwijaya hancur. Kerajaan ini didirikan oleh Malikus-saleh, merupakan kerajan yang kaya dengan pen-duduknya yang banyak. Kota Kerajaan di sebut Pasai, sekarang ini letaknya di Desa Beuringen Kec. Samudera Geudong Kab. Aceh Utara Propinsi NAD.

Wilayah Kekuasaan kesultanan Pase (Pasai) pada masa Kejayaannya sekitar abad ke 14 terletak di daerah yang diapit oleh dua sungai besar di pantai Utara Aceh, yaitu sungai Peusangan dan sungai Pasai. Adapula orang yang berpendapat wilayah Kerajaan itu lebih luas lagi ke Selatan sampai ke muara sungai Jambo Aye, jelasnya Kerajaan Samudera Pasai adalah daerah aliran sungai yang hulunya berasal jauh ke pedalaman daratan tinggi Gayo Kab. Aceh Tengah. 


Karena letak Keraja-an Pasai pada aliran lembah sungai membuat tanah pertanian subur, padi yang ditanami penduduk Kerajaan Islam Pasai pada abad ke 14 dapat dipanen dua kali setahun, dalam berikutnya Kerajaan ini bertambah makmur dengan dimasukkannya bibit tanaman lada dari Malabar.  Selain hasil pertanian yang melimpah ruah di dataran rendah, di dataran tinggi (daerah Pedalaman juga meng-hasilkan berbagai hasil hutan yang di angkut ke daerah pantai melalui sungai.

Hubungan per-dagangan penduduk pesisir dengan penduduk pedalaman adalah dengan sistem barter. Dengan munculnya pusat politik dan per-dagangan baru di Malaka pada abad ke 15 adalah faktor yang menyebabkan Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran.  Hancur dan hilangnya peranan Pase dalam jaringan antar bangsa, yaitu ketika suatu pusat Kekuasan baru muncul di ujung barat pulau Sumatera yakni Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke 16.

Pasai ditaklukan dan di masukkan ke dalam wilayah Kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah dan Lonceng Cakra Donya hadiah dari Raja Cina untuk Kerajaan Islam Samudera Pasai dipindah-kan ke Aceh Darussalam (sekarang Banda Aceh).  Namun demikian dari perjalanan sejarah Pasai antara akhir abad ke 13 sampai awal abad ke 16 memang menunjukkan Kerajaan Samudera Pasai muncul dan berkembang.  

Runtuhnya kekuatan Kerajaan Pasai sangat berkaitan dengan per-kembangan yang terjadi di luar Pasai itu sendiri, tetapi lebih di titik beratkan dalam kesatuan zona Selat Malaka walaupun Kerajan Islam Samudera Pasai berhasil ditaklukan oleh Sultan Asli Mughayat Syah, namun peninggalan dari Kerajaan ini masih banyak dijumpai sampai saat ini di abad ke 21.   

Pada tahun 1913, 1915, J.J. De Vink bangsa Belanda telah mengadakan inventarisasi di bekas peninggalan Kerajaan Islam Samudera Pasai dan pada tahun 1937 di pugar beberapa makam di Samudera Pasai oleh Pemerintah Belanda kemudian pada tahun 1972,1973 dan tahun 1976 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai di Kec. Samudera Geudong Kabupaten Aceh Utara telah di inventarisasi oleh Direktur Jendral Kebudaya-an Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.


Pada umumnya tulisan pada makam tersebut belum diteliti seluruhnmya dan hal ini perlu penelitian lebih lanjut oleh generasi sekarang.
 Berbagai pening-galan sejarah berupa situs makam para raja yang hingga saat ini penduduk disekitar makam Sultan Malikussaleh sering mendapat mata uang emas (dirham) keramik, gelang mata delima yang umumnya ditemukan oleh petani tebat, saat meraka menggali tebat di sekitar kawasan tersebut. Makam/situs peninggalan Kerajaan Islam Samudera Pasai yang terpelihara dengan baik sampai saat ini adalah :

 

MAKAM / GRAVE SULTAN MALIKUSSALEH



Sultan Malikussaleh merupakan raja pertama Kerajaan Samudera Pasai yang didirikan pada pertengahan abad ke- 13. Beliau menyebarkan agama Islam ke seluruh nusantara melalui ketu-runannya dan petinggi-petinggi kerajaan. Makamnya terletak di Gampong Beuringen Kec. Samudera ± 17 km dari Kota Lhokseumawe.

Nisan ini terbuat dari batu granit berpahatkan aksara Arab. Terjemahan-nya sebagai berikut: “ini kubur Almarhum yang diampuni, yang taqwa, yang menjadi penasehat, yang terkenal, yang berketurunan yang mulia, yang kuat beribadat, penakluk yang bergelar Sultan Malik Al-Saleh”.

Surat Al-Hasyr Ayat 22-24 dan sebentuk puisi dengan kaligrafi yang indah menghiasi nisannya. Inilah terjemahan bebas Ibrahim Alfian: “sesung-guhnya dunia ini fana, dunia ini tiadalah kekal, sesungguhnya dunia ini ibarat sarang ditenun laba-laba. Demi sesung-guhnya memadai dunia ini bagimu, hai orang-orang yang mencari kekuatan, hidup hanya untuk masa yang singkat saja, tak terkecuali semua-nya akan menghembuskan nafas penghabisan”.

MAKAM / GRAVE SULTAN MALIKUL DHAHIR

Sultan Malikul Dhahir adalah anak pertama dari Sultan Malikussaleh yang mengambil alih pimpinan Kerajaan Samudera Pasai dari tahun 1297-1326 M.

Makamnya terletak di Gampong Beuringen Kec. Samudera ± 17 km dari Kota Lhokseumawe, letak makam ini bersebelahan dengan Makam Malikussaleh.

Batu nisan terbuat dari granit, terpahat surat At-Taubah Ayat 21-22 serta terdapat teks yang terjemahan: “Kubur ini kepunyaan tuan yang mulia, yang syahid bernama Sultan Malik Adh-Dhahir, cahaya dunia dan sinar agama. Muhammad bin Malik Al-Saleh, wafat malam Ahad 12 zulhijjah tahun 726 H (19 Nopember 1326 M).

MAKAM RATU NAHRISYAH



Nahrisyah adalah seorang ratu dari Kerajaan Samudera Pasai yang memegang pucuk pimpinan tahun 1416-1428 M. Ratu Nahrisyah dikenal arif dan bijak, memerintah dengan sifat keibuan dan penuh kasih sayang. Harkat dan martabat perempuan begitu mulia sehingga banyak yang menjadi penyiar agama pada masa pemerintahannya. Nahrisyah mangkat pada tanggal 17 Zulhijjah 831 H atau 1428 M.

Makamnya terletak di Gampong Kuta Krueng  Kecamatan Samudera ± 18 km sebelah timur Kota Lhokseumawe, tidak jauh dari Makam Malikussaleh.

Surat Yasin dengan kaligrafi yang indah terpahat dengan lengkap pada nisannya. Disamping itu tercantum pula ayat Kursi, Surat Ali Imran ayat 18 19, Surat Al-Baqarah ayat 285 286 dan terpahat sebuah penjelasan dalam aksara Arab yang artinya: “Inilah makam yang suci, Ratu yang mulia almarhumah Nahrisyah yang digelar dari bangsa chadiu bin Sultan Haidar Ibnu Said Ibnu Zainal Ibnu Sultan Ahmad Ibnu Sultan Muhammad Ibnu Sultan Malikussaleh, mangkat pada hari Senin 17 Zulhijjah 831 H”.

MAKAM GRAVE OF TEUNGKU SIDI ABDULLAH TAJUL NILLAH

Teungku Sidi Abdullah Tajul Milah berasal dari Dinasti Abbasiyah dan merupakan cicit dari khalifah Al-Muntasir yang meninggalkan negerinya ( Irak ) karena diserang oleh tentara Mongolia Beliau berangkat dari Delhi menuju Samudera Pasai dan mangkat di Pasai tahun 1407 M. Beliau adalah pemangku jabatan Menteri Keuangan.

Makam beliau terletak di Gampong Kuta Krueng Kecamatan Samudera ± 18 makam sebelah timur Kota Lhokseumawe.

Batu nisannya terbuat dari marmer berhiaskan ukiran kaligrafi, ayat kursi yang ditulis melingkar pada pinggiran nisan. Sedangkan di bagian atasnya tertera kalimat Bismillah serta surat At-Taubah ayat 21-22.

MAKAM / THE GRAVE OF NAINA HISAMUDDIN



Naina Hasamuddin wafat pada bulan Syawal 823 H ( 1420 M ). Makam beliau terletak di Gampong Mns. Pie Kecamatan Samudera kabupaten Aceh Utara , dalam komplek makam terdapat 12 batu pusara. Situs makam ini berhiaskan ornamen dan kaligrafi ayat Kursi di atas batu pualam, ditambah dengan sepotong sajak berbahasa Parsi berisikan petuah mati bagi yang hidup, Sajak tersebut ditulis penyair Iran Syech Muslim Al-Din Sa’di (1193-1292) yang diterjemahkan oleh sejarawan Ibrahim Alfian: Tiada terhitung bilangan tahun melintasi bumi, Laksana mata air mengalir dan semilir angin lalu, Bila kehidupan hanyalah separangkat kumpulan hari-hari manusia, Mengapa penyinggah bumi ini menjadi angkuh? Oh, sahabat! Jika kau lewat makam seorang musuh, Janganlah bersuka cita, sebab hal yang sama jua akan menimpamu, Wahai yang bercelik mata dengan kesombongan, Debu-debu akan merasuki tulang belulang Laksana pupur cetak memasuki kotak penyimpanannya. Barangsiapa menyombongkan diri dengan hiasan bajunya, Esok hari jasadnya yang terkubur hanya tinggal menguap.
Dunia sarat persaingan dan sedikit kasih sayang, Ketika tersadar ia terkapar tanpa daya.
Demikianlah sesungguhnya jasad yang kau lihat terbujur berkalang tanah Barang siapa memenuhi peristiwa penting ini dari kehidupannya nanti, Kemanakah ia harus menghindar? Tak ada yang mampu memberi pertolongan, kecuali amal shaleh.
Saidi bernaung dibawah bayang Allah yang maha pemurah Yaa Rabbi, janganlah siksa hambamu-Mu yang malang dan tak berdaya ini Dosa senantiasa berasal dari kami, sedang engkau penuh limpahan belas kasih.

MAKAM PERDANA MENTERI

Situs ini disebut juga Makam Teungku Yacob. Beliau adalah seorang Perdana Menteri pada zaman Kerajaan Samudera Pasai, sehingga makamnya digelar Makam Perdana Menteri. Beliau mangkat pada bulan Muharram 630 H atau Augustus 1252 M. Dilokasi ini terdapat 8 buah batu pusara dengan luas pertapakan 8 x 15 m.

Nisannya bertuliskan kaligrafi yang indah surat Al-Ma’aarij ayat 18-23 dan surat Yasin ayat 78-81.

MAKAM TEUNGKU PEUET PLOH PEUET



Dikomplek Makam Teungku 44 (Peuet Ploh Peuet) dikuburkan 44 orang ulama dari  Kerajaan Samudera Pasai yang dibunuh karena menentang dan mengharamkan perkawinan raja dengan putri kandungnya.

Makam ini dapat kita temui di Gampong Beuringen Kecamatan Samudera ± 17 km sebelah timur Kota Lhokseumawe. Pada nisan tersebut bertuliskan kaligrafi yang indah surat Ali Imran ayat 18.

MAKAM / THE GRAVE OF SAID SYARIF

Said Syarif adalah seorang menteri dari Kerajaan Samudera Pasai. Beberapa sejarawan menyebutkan beliau merupakan ayah kandung Fathillah atau Falatehan, seorang ulama terkenal bergelar Sunan Gunung Jati, pendiri Kota Jayakarta (Jakarta), lahir di Pasai 1490 M.

Makamnya terletak di Gampong Mancang Kecamatan Samudera ± 16 km sebelah timur Kota Lhokseumawe.

Batu nisannya terbuat dari batu marmar bertuliskan kaligrafi yang indah terdiri dari ayat Kursi, surat Ali Imran ayat 18-19 dan surat At-Taubah ayat 21-22.

MAKAM / GRAVE OF TEUNGKU DI IBOIH

Makam Teungku di Iboih adalah makam Maulana Abdurrahman Al-Fasi. Sebagian arkeolog berpendapat bahwa makam ini lebih tua dari makam Malikussaleh.

Makam beliau terletak di desa Mancang Kecamatan Samudera ± 16 km sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Batu nisannya dihiasi dengan kaligrafi yang indah terdiri dari ayat Kursi, surat Ali Imran ayat 18 dan surat At-Taubah ayat 21-22.

MAKAM / GRAVE OF BATEE BALEE

Makam ini merupakan situs peninggalan sejarah Kerajaan Samudera Pasai. Tokoh utama yang dimakamkan pada Situs Batee Balee ini adalah Tuhan Perbu yang mangkat tahun 1444 M.

Lokasi di desa Meucat Kecamatan Samudera ± sebelah Timur Kot Lhokseumawe. Diantara nisan-nisan tersebut ada yang bertuliskan kaligrafi yang indah yang terdiri dari surat Yasin, Surat Ali Imran, Surat Al’Araaf, Surat Al-Jaatsiyah dan Surat Al-Hasyr.

MAKAM RATU AL-AQLA ( NUR ILAH )

Ratu Al-Aqla adalah puteri Sultan Muhammad ( Malikul Dhahir ), yang mangkat pada tahun 1380 M, beliau menjadi raja di Pasai dan Kedah.

Makam tersebut berlokasi di Gampong Meunje Tujoh Kecamatan. Matangkuli ± 30 km sebelah timur Kota Lhokseumawe. Batu nisannya dihiasi dengan kaligrafi yang indah berbahasa Kawi dan bahasa Arab.

Rumah adat Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia adalah salah seorang pahlawan wanita nasional dari Aceh Utara, selama 20 tahun ia memimpin perjuangan melawan penjajahan Belanda diwilayahnya Matangkuli yaitu dari tahun 1890-1990 M. Dari rumah ini beliau aktif dalam memimpin dan mengatur strategi peperangan.

Rumah Adat Cut Meutia dapat ditemui 3 km dari desa Matangkuli Kecamatan Matangkuli. Rumah Adat Cut Meutia ini dipagar dan dibangun kembali oleh Pemerintah sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan Wanita Aceh.

Cut Nyak Meutia tewas dihulu sungai Peutoe oleh tembakan serdadu Belanda pada 25 Oktober 1910. Makamnya terletak di Desa Buket Panyang, yang jaraknya memakan waktu 2 hari 2 malam dengan berjalan kaki dari rumahnya yang merupakan perbatasan antara Kecamatan Matangkuli dan Kecamatan Cot Girek.

TUGU PAHLAWAN COT PLIENG



Teungku Abdul Jalil Cot Plieng adalah pahlawan Aceh Utara yang berjuang melawan tentara Jepang dalam perjuangan Fisabilillah, demi mempertahankan Agama dan tanah air dari cengkraman penjajahan Jepang. Beliau mangkat pada tanggal 10 Nopember 1942. Untuk mengenang perjuangan beliau dibangun tugu di desa Cot Plieng Kecamatan Syamtalira Bayu Kab. Aceh Utara 10 km sebelah timur Lhokseumawe.    

Pemandian Krueng Sawang



Sawang 45 km arah barat kota Sawang adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Lhokseumawe. Disini terdapat sebuah sungai yang airnya sangat jernih penuh dengan bebatuan, tempat ini merupakan pemandian yang ramai dikunjungi wisatawan. Udaranya yang sejuk, lingkungan yang masih alami, sangat layak dijadikan sebagai lokasi perkemahan. Daerah ini juga dikenal sebagai lokasi perkemahan. Daerah ini juga dikenal sebagai penghasil durian.  

AIR TERJUN BLANG KOLAM

Air terjun Blang Kolam berada ± 21 km dari Lhokseumawe, tepatnya di Desa Sidomulyo Kabupaten Aceh Utara. Kesederhanaan Alam yang alami oleh gemuruh air dan kicauan burung liar merupakan pesona tersendiri objek wisata ini.

PANTAI ULEE RUBEK



Pantai Ulee Rubek, sebuah pantai berpasir putih yang sangat indah. Pantai ini terletak di Desa Ulee Rubek Kec. Seunuddon. Objek wisata yang berjarak 49 km dari kota Lhokseumawe ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

PANTAI SAWANG



Pantai sawang merupakan salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Pantai ini memiliki panorama yang sangat indah. Pantai ini berjarak 29 km dari Lhokseumawe, tepatnya terletak di Desa Sawang Kecamatan Samudera.


 
 

auracms is provided for you free auracms is provided for you free auracms is provided for you free auracms is provided for you free  
 

KPDE Aceh Utara © 2007

Go to top